Novel Ketika Embun Merindukan Cahaya Mewarnai Toleransi

Sungguh senang rasanya bisa mendapatkan kesempatan untuk membaca novel terbaru karya sahabat saya Hadis Mevlana yang kini telah menerbitkan novel kedua dengan judul Ketika Embun Merindukan Cahaya. Kekhasan karya beliau selalu mengajarkan para pembacanya banyak hal dan memperkaya wawasan rohani yang mendalam terutama mengenai makna toleransi yang sesungguhnya. Seperti pada karya sebelumnya, novel ini merupakan kisah lanjutan dua tokoh sentral Sofyan dan Kiara yang sukses membayangi para pembacanya di novel pertama Embun di Atas Daun Maple. 

Novel Ketika Embun Merindukan Cahaya (Dok. Pribadi)
Novel terbitan Tinta Medina ini memiliki jumlah halaman sebanyak 340 halaman, membuat kita yang membacanya tidak terasa dan terbuai dengan penggalan-penggalan kata yang indah. Banyak puisi-puisi yang sejuk dan enak di baca dan di resapi, makna nya snagat dalam dan penuh jiwa islami. Tata bahasanya sangat baik dan santun, membuat novel ini layak di baca bagi siapapun. Supaya makin penasaran berikut penggalan sinopis dan ulasan dari novel terbaru karya Hadis Mevlana “Ketika Embun Merindukan Cahaya”

Sinopsis

Di tepi sungai saskatchewan semua bermula. Mulai detik itu, gadis kristen ortodoks bermata biru itu pun menjelma serupa bidadari surga usai melafaz “mantra cinta”. Dua kalimah syahadat terurai penuh makna. Sofyan, pemuda Teluk Kuantan, Sang penyaksi syahadat turut haru bahagia sebab cahaya telah menerangi hati Kiara.

Sementara itu, Sofyan masih harus mengungkap secret admirer pemilik mawar putih yang selalu ada di depan apartemennya. Olivia dan Zahra yang menaruh hati pada Sofyan pun di duga sebagai pelakunya. Termasuk Kiara yang memang sudah jatuh cinta sejak lama.

Ulasan

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal postingan ini, novel ini sangat toleran dan penuh romansa. Penulis menyajikan kisah yang cukup masif dengan 30 bab di dalamnya. Dari sekian bab, saya sangat memfavoritkan bab mengenai kiblat dan salib. Seperti yang disajikan penulis, penggalan cerita tersebut mengingatkan saya terhadap kisah yang hampir sama, dilema antara menunaikan kewajiban sholat namun kondisi terdesak, dimana dalam cerita sofyan menunaikan sholat di tempat felix yang beragama kristen, namun arah kiblat tertuju pada simbol salib di hadapannya, cerita di bab ini begitu toleran karena Felix yang beragama kristen memahami apa yang harus ia lakukan, menghormati Sofyan yang ingin menunaikan kewajibannya dengan menurunkan simbol salib sehingga Sofyan dapat menunaikan ibadah sholat di tempatnya. 

Masih dalam bab yang sama, saya memfavoritkan kutipan Sofyan mengenai kecintaanya terhadap Isa as, “Tidaklah kami seorang muslim dikatakan beriman ketika kami tidak beriman kepada salah satu utusan Allah. Diantaranya adalah Yesus yang telah diutus bagi Bani Israel. Kami umat Islam mengimani sepenuh hati, bahwa Yesus Kristus adalah hamba dan Utusan-Nya. Ia unik dalam penciptaannya. Terlahir dari seorang perawan terpilih, Sayyidah Maryam. Ia telah membuktikan berbagai mukjizat untuk menguatkan kenabian atas izin Tuhannya. Ia manusia terpilih diantara hamba-hamba-Nya. Ia nabi, bukan Tuhan yang harus diibadahi” 

Novel ini juga dihiasi puisi-puisi cantik, puisi favorit saya ada di halaman 319 di bab graduation

Hati
Jangan biarkan
Membatu dalam terpaan tetes-tetes embun
Membeku ketika CAHAYA sang RAJA mencoba merasuk
Membisu dalam deras aliran kata-kata bijaksana
Membuta dalam terik detik yang tak pernah kembali
Tuli dalam gemuruh badai yang merombak sendi-sendi

Jangan biarkan
Terkunci kerasnya baja lapis baja
Tergores luka lama
Ternoda dengan titik-titik tak berharga
Lalu menggunung, mencakar langit, menhunjam bumi
Tanpa mencuci bersih dengan mata air
Yang memancar dari segala penjuru mata angin
Senang membaca novel ini (dok.pribadi)

Tentunya masih banyak puisi cantik lainnya dan cerita novel Ketika Embun Merindukan Cahaya patut untuk di baca hingga tuntas, nggak melulu soal cinta sesama manusia, tapi cinta kepada Sang Pencipta yang menjadi poin utama dalam cerita ini, bagus sekali.

Nah, penasaran kan sama isi novel ini secara keseluruhan? Aku mau bagi-bagi GIVE AWAY Novel Ketika Embun Merindukan Cahaya langsung dari Penulisnya secara GRATIS nih untuk kamu yang beruntung ^.^ caranya simak berikut ini :

1. Follow akun instagram @rickicahyana, @hadismevlana, dan @tigaserangkai
2. Berikan komentarmu terhadap novel ini di kolom komentar blog zonaricki.id postingan ini, sertakan nama kamu dan akun instagram-mu di akhir komentar ya
3. Pemenang akan ditentukan secara acak dan komentar yang paling menarik yang berhak mendapatkan GIVE AWAY ini
4. Kesempatan ini akan ditutup pada tanggal 28 April 2018 dan di umumkan pada tanggal 29 April 2018 melalui akun instagram @rickicahyana dan @hadismevlana.

So, pantengin terus ya!

0 Response to "Novel Ketika Embun Merindukan Cahaya Mewarnai Toleransi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel