Pelari Hore di Tokyo Marathon 2017

Rasanya tidak akan pernah menyangka, ketika aplikasi pendaftaran yang gue ajukan di Agustus 2016 memberikan pengumuman yang cukup mengejutkan di satu bulan kemudian, dimana gue diumumkan dapat kesempatan yang sangat langka untuk diterima sebagai salah satu pelari Indonesia untuk Tokyo Marathon 2017. Salah satu ajang bergengsi lari kelas dunia yang sangat diidamkan pelari di berbagai belahan negara manapun, karena Tokyo Marathon adalah salah satu dari 6 kompetisi lari kelas dunia setelah Boston, New York, Chicago, Berlin, dan London. Rasanya mimpi sekaligus was-was, apakah gue bisa menyelesaikan tantangan ini ya? Latihan lari yang dikombinasikan dengan latihan strength sangat membantu perjuangan lari gue, terhitung puluhan event lari telah gue ikuti di mulai lari hore sampai dua race full marathon yang diikuti tuntas hingga finish di Jakarta dan Penang Malaysia. Berbekal itulah gue tetap optimis bisa menuntaskan tantangan ini! (harus pede ya :p)
Foto kece di booth nya Tokyo Metro  (dok.pribadi)
Jauh sebelum keberangkatan gue untuk Tokyo Marathon, gue pun memilih mencoba menyelesaikan tantangan full marathon di Penang Malaysia (baca ceritanya di sini) berbagai upaya gue coba lakukan agar dapat mencapai garis finish dengan ganteng di world major marathon :p. Selain mencoba race lain, latihan pun terus di genjot walaupun pace gue siput, ga muluk-muluk yang penting finish di bawah batasan waktu, udah itu aja yang penting happy, ya kan? :)


Sebelum keberangkatan menuju Tokyo (Dok. Pribadi)
Bukan Ricki namanya juga, kalau lari di Tokyo tanpa membawa aksi. Tercatat, sudah cukup banyak gue berinisiasi dengan membawa kampanye sosial di setiap aksi lari gue, di mulai pendidikan hingga lingkungan. Gue berfikir, seru juga jika lari gue membawa isu kesehatan yang sangat berkorelasi dengan hobi gue berolahraga. Berlatar belakang dengan kegundahan gue dengan prinsip hidup sehat sejak SMA dengan menolak produk rokok, gue putuskan untuk berlari mendukung Indonesia untuk mengaksesi regulasi pengendalian tembakau atau yang di kenal dengan sebutan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dimana Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN dan Asia yang belum menandatangi memorandum tersebut, malu kan? Gue berharap dengan gue membawa tulisan tersebut di jersey gue lari, masyarakat dunia akan melihat dan membaca bahwa Indonesia perlu di dukung.

FCTC For Indonesia


FCTC for Indonesia adalah kampanye yang gue usung dengan berlari di Tokyo Marathon, masyarakat dunia akan mengetahui ternyata Indonesia sangat perlu FCTC. Sebulan sebelum Tokyo Marathon di gelar, gue bersama kitabisa.com membuat kampanye dengan tajuk ‘run for tobacco victim’, dimana hasil dari donasi kampanye akan sepenuhnya di berikan bagi korban yang sedang sakit akibat produk rokok. Kampanye bisa dilihat sepenuhnya di www.kitabisa.com/runfortobaccovictim

Publikasi kampanye "Run For Tobacco Victim" (Dok. Pribadi)
Uniknya ternyata tulisan di jersey yang gue gunakan, membuat beberapa peserta tokyo Marathon bertanya, Kato peserta marathon asal Jepang bahkan sempat gue videokan bahwa ia sangat mendukung FCTC untuk Indonesia dengan harapan bisa menyusul negaranya yang terlebih dulu mengaksesinya, ada pesan yang gue ingat, kuncinya adalah buat harga rokok menjadi mahal sehingga anak-anak tidak menjangkaunya.

Sebelum gue mendarat di Jepang, Hongkong mnejadi negara transit gue. Bahkan di Hongkong pun aturan mengenai kawasan tanpa rokok sudah terpampang jelas dengan gagah berani di setiap ruang dan tidak main-main dendanya yakni sebesar 5000 dolar hongkong, begitupun di Jepang yang menerapkan sanksi denda bagi perokok sembarangan, nyaris tidak pernah gue temukan satu orang pun yang merokok di sembarang tempat, mereka semua hanya merokok di tempat smoking room, sangat teratur. Kondisi inilah yang gue rasa sangat perlu di terapkan di Indonesia, sudah banyak dorongan dan dukungan untuk pemerintah agar lebih memperhatikan kesehatan masyarakat Indonesia, salah satunya dengan mengaksesi FCTC.

Belajar dari Jepang

5 hari di Jepang rasanya terlalu singkat, banyak hal dan pengalaman yang diperoleh bahkan gue menjadi lebih banyak tahu tentang Jepang dari keluarga yang gue kenal bernama Sou & Sitoshi, keluarga muda yang sudah memiliki 3 orang anak yang lucu dan menggemaskan, karena jasanya yang menyewakan usaha homestay yang sangat homey untuk gue selama tinggal di Jepang. Mereka sangat ramah dan santun bahkan pengalaman yang tak dilupakan adalah gue di undang makan malam bersamanya dengan memasak takoyaki bersama, it’s memorable for me.

Belajar tentang Jepang dan Budaya nya dari Keluarga ini (Dok.Pribadi)
Rasanya membandingkan Jepang dan Indonesia terlampau sangat jauh, budaya Jepang sangat melekat di warganya sampai urusan antri dan naik tangga pun mereka sudah tertanam dalam diri dan menjadi habits yang luar biasa mengagumkan. Bahkan gue pun sangat takjub dengan budaya ‘self service’, yang sedikit kaget ketika gue makan di fast food, yang umumnya kita biarkan nampan dan sisa makanan begitu saja di atas meja, di sana setelah makan para pengunjung resto merapikan sampah dan peralatan makanan secara mandiri di tempat yang telah di sediakan.

Di Jepang pun semua hal berbasis elektrik, sampai urusan nyalain lampu pakai remote, atau toilet umum yang berbasis digital (beginilah kalau orang udik dateng ke negara maju ;p), jangan harap kita bisa ketemu warung atau kios pinggir jalan buat beli minum, karena urusan minum jepang menyediakan vending machine di berbagai tempat publik, tinggal masukin koin keluar minuman yang kita mau, hehe. Luar biasa keren juga adalah sistem transportasi publik yang bener-bener terintegrasi : antara train (KRL), Shinkansen (kereta cepat), Monorail, dan Subway bahkan jadwal keberangkatannya pun sangat on-time dan tidak pernah menunggu lebih dari 2-5 menit. Kemana-mana pokoknya naik kereta lebih nyaman, rombongan kereta (roker) sejati!

Urusan makanan di Jepang tidak perlu khawatir untuk muslim, karena banyak resto-resto halal di sini atau jika kemahalan kita bisa membeli berbagai olahan seafood yang siap makan di supermarket yang ada di berbagai stasiun kereta harga lebih bersahabat.

Perjuangan hingga finish di Tokyo Marathon
Tokyo Marathon memang layak menjadi salah satu event kelas dunia, dimulai dari undangan pelari pun oleh panitia di kirimkan menggunakan post mail (jarang-jarang kan dapet kiriman pos dari luar negeri, hehe) dan dokumen tersebut mempermudah peserta mendapatkan akses visa Jepang. Di hari pertama pendaratan, gue langsung menyambagi Tokyo Big Sight untuk mengambil perlengkapan peserta. Expo yang di selenggarakan sangat luas dan ramai sekali, yang unik volunteer yang dikerahkan berbagai usia, di mulai anak-anak hingga lansia. Mungkin ini menjadi ciri masyarakat Jepang, bahwa semua warga sangat antusias dengan perhelatan Tokyo Marathon 2017.
Bersama expo guide, mahasiswi kanagawa university menjadi volunteer untuk Tokyo Marathon 2017 (Dok.pribadi)

Setiap peserta asing di dampingi oleh satu pendamping yang menjelaskan rule selama perlombaan berlangsung, panitia pun sangat sigap melayani berbagai pertanyaan peserta. Selain mengenai perlengkapan dan persiapan, di Tokyo Big Sight juga dihelat Tokyo Marathon Expo, dimana para partisipan dan non partisipan bisa menikmati suguhan acara dimulai talkshow, games, foto, dan tentunya bisa belanja keperluan lari, super lengkap. Bisa gue katakan, mungkin ini pameran olahraga lari terbesar dan terlengkap yang pernah ada, brand A sampai Z ada semua (bisa kalap :p)

Anyway, mungkin ini pertama kalinya gue lari di iklim yang kurang bersahabat dengan orang tropis macam gue. H-2, gue sengaja lari di jam pagi biasanya gue latihan, eing ing eng, freezing gila. Suhu pagi itu menunjukan 6 derajat, gue udah nggak bisa bayangin lari di suhu yang super dingin macam gitu. Hahaha. Baru 2 KM, gue nggak sanggup menghadapi angin semilir yang merusuk ke ubun-ubun rasanya kaya ketiban es batu padahal lapisan pakaian udah dobel 3 plus jaket. Balik lagi ke flat gue deh, gue udah was was gimana caranya mengakali supaya gue tetap nyaman berlari walau hantaman cuaca dingin kaya gini, akhirnya siangnya gue belanja keperluan yang bisa menghangatkan tubuh.

H-1 peserta yang terpilih dan mendaftarkan diri untuk mengikuti sesi friendship run, bisa jadi ajang adaptasi iklim. Antisipasi dari sesi percobaan lari di hari sebelumnya, pakaian gue lebih nyaman karena gue akali pake kupluk, supaya angin dingin nggak masuk ke telinga dan nggak hantam kepala. Seneng banget di sesi ini, dapat kenalan banyak peserta dari berbagai negara : Belanda, Denmark, Hongkong, Taiwan, Malaysia, Singapura, USA, India, dan masih banyak lagi.


pelari antar negara (dok.pribadi)

Hari yang di nantikan tiba! World major marathon pertama gue, excited banget pastinya. Event kelas dunia ini emang rapi banget, dimulai alur masuknya yang di buat kelompok berdasarkan pace dan target waktu finish, jalur yang benar-benar steril, water station yang melimpah ruah, makanan di food station yang enak-enak parah, buah-buah di fruit station yang seger gila, supporter sepanjang 42 KM yang super gila, track yang nyaman buat pelari karena cenderung datar. Tapi yang buat was-was semua peserta adalah diberlakukannya cut off time per 5 KM, stress bukan main. Lewat dari cut off time, peserta akan di garuk bus alias di angkut pake bus yang siap keliling dan nunggu di belakang peserta, serem kan? Apalagi macam pelari kaya gue yang dapat kelompok pace L, kelompok paling buncit ambil posisi start paling belakang mesti punya strategi bagus supaya nggak di garuk bus.

Detik-detik menjelang finish yang penuh gegap gempita (dok.pribadi)
Berbekal nasihat dari suhu lelarian, 25 KM awal gue ambil posisi lari dengan pace di atas pace gue lari biasanya, yes I did ! disini perjuangannya. Rasanya seneng banget pas ngeliat waktu yang masih lumayan bersisa di setiap check point, jadi masih ada tabungan waktu di akhir-akhir kalau udah nggak kuat lari, bener aja di KM 32 gue ambil posisi jalan santai dan di kombinasiin jalan cepet sambil menikmati buah buah seger dan roti yang sumpah enak banget. Tenaga udah keiisi, baru deh bisa lari-lari ganteng lagi sampe di titik KM 40. Nggak kerasa, 2 KM lagi sampe, disinilah yang menurut gue merasa bangga akhirnya gue bisa juga finish di sini. Lari menuju garis finish juga seneng, karena di sisi jalan di penuhi warga Tokyo dan mungkin wisatawan yang terus tepuk tangan, bahkan ada yang teriak Indonesia, uhhh seneng banget. Alhamdulillah, finish dengan ganteng walaupun nggak bisa sub 6 ( dibawah 6 jam) tapi masih lebih baik di banding catatan waktu di Penang Marathon, selesai 6 jam 34 menit. Terima kasih untuk dukungan teman-teman selama ini, Semoga masih bisa diberi kesempatan menjajal world major marathon lainnya :D

Finisher medal nya keren ya? (dok.pribadi)



0 Response to "Pelari Hore di Tokyo Marathon 2017"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel